Sang Penari

Bibir merah tersapu darah
Tersenyum penuh pesona berbahaya
Selendangnya yang berkibar, terus menggelora
Membakar tubuh dan mengiris jiwa

Ia adalah pelukis dengan tubuhnya

Mencurahkan cerita tanpa kata

Tentang ketidakadilan yang disembunyikan, 

Tentang dendam akan pengkhianatan, 

Sang tuan yang tersayang. 


"Kau campakkan aku, 

Layaknya bunga layu usai bercinta

Lemah tak berdaya

Tanpa rias kecantikan yang tak lagi muda?"


Setiap langkahnya melukiskan kebencian tak terelakkan

Penyesalan akan keputusan yang terlena buta akan kekayaan


Kini ia akan terus menari

Bersabar menanti

Hingga Sang tuan mati dan menghampiri



Oleh: Robiatul Wafiyah (205110200111041)

Komentar

Postingan Populer